2008_08_03 Brillante Weblog Dan Cerita Bijak


Seorang pemuda mendatangi Zun-Nun dan bertanya, "Guru, mengapa orang seperti anda, mesti berpakaian seadanya, amat sangat sederhana. Bukankah di zaman seperti ini, berpakaian sebaik baiknya amat perlu, bukan hanya untuk penampilan tapi juga untuk tujuan lain?"


Sang Sufi hanya terenyum dan melepaskan cincin di jarinya, lalu berkata, "Sobat muda, akan kujawab pertanyaan mu. Tapi lebih dahulu, lakukan dulu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana. Bisakah kamu menjual seharga 1 keping emas?"


Melihat cincin Zun Nun yang kotor, pemuda tadi merasa ragu. "Satu keping emas? Saya ragu cincin ini tidak dapat dijual seharga itu."


"Cobalah dulu Sobat muda. Siapa tahu kamu berhasil."


Pemuda itu pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang lain, pedagang sayur, penjual daging, ikan serta kepada yang lain. Ternyata tak seorang pun berani membeli seharga 1 keping emas. Mereka hanya menawarkan seharga 1 keping perak. Tentu saja pemuda itu tak berani menjualnya dengan harga 1 keping perak. Ia kembali ke Padepokan Zun-Nun dan melapor. "Guru, tak seorang pun berani menawar lebih dari 1 keping perak."


Sambil tetap tersenyum, Zun Nun berkata," Sekarang pergilah kamu ke toko emas, dibelakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau pedagang emas disana. Jangan buka harga, dengarkan saja bagaimana mereka memberikan penilaian. Pemuda itupun pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali kepada Zun-Nun dengan raut wajah yang lain. "Guru ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai yang sesungguhnya. Pedagang emas menawarkan dengan harga 1000 keping emas."


Rupanya nilai cincin itu 1000x lebih tinggi dibanding yang ditawarkan para pedagang dipasar. "Itulah jawaban atas pertanyaanmu Sobat. Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiannya. Hanya para "pedagang sayur, ikan, dan daging di pasar" yang menilai demikian. Namun tidak bagi "pedagang emas".


Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai, jika kita mampu melihat kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk menjenguknya, dan itu butuh proses. Kita tak hanya bisa menilai dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan lihat sekilas. Seringkali yang disangka emas, ternyata loyang. Dan yang kita anggap loyang, adalah emas. **Motivasi.net

Bersama kebaikan sebuah cerita, mari berbagi award kepada sahabat:


Award lagi ... dari Cablina
  1. Put the logo on your blog
  2. Add a link to the person who awarded you
  3. Nominate at least 7 other blog
  4. Add links to those blog on yours
  5. Leave a message for your nominees on their blogs
Berbagi untuk:
1. Nugraha Adi
2. Elmo
3. Tammi
4. Monyet Gaul
5. Uci Autish
6. Repl. Gaptek
7. Antown
Untuk disebarkan dengan segala kebaikannya ya ...

6 Fans Berat:

Republik Gaptek mengatakan...

Hihihi Tagsnya sudah pernah dikerjakan...Tapi makasih loh ya Awardnya*sambil ngelap ingus*.

BTW nama gue Tyogaptek

kuyus_is_cute mengatakan...

@halo mas tyo ..
namanya mirip sama keponakan saya yang super bandel en kalem setelah gedenya .. hi hi

Lah yang ini type bandel apa super kalem .. hi hi canda

Akang Dahsyat mengatakan...

Award terus yah?? hebat atuh..hehehehe..

ucii AUTISH mengatakan...

waaah.. maap baru baca :P
duh telat yeuh..
makasi pisan yah kuyuss :)
oh ya, di link yaa.. yuk mari :P

siwi mengatakan...

Manna..mana? Katanya ada award untukku? Hihi.. Ngarep :)

nugraha adi putra mengatakan...

makasih banyak yah awardnya.. hihi..