2009_06_17 Sebuah Cerita Singkat Tentang Perjalanan Uang ..


Sepulang dari perjalanan, aku ingin mencoba trayek satu metromini yang kebetulan melewati jalur jalan ke rumah. Hanya saja, aku belum pernah mencobanya ..
Siang itu, pengguna metromini tak banyak. Aku duduk dekat pintu .. sembari mengamati depan, aku juga tahu siapa siapa yang datang menaiki metromini.


Ditengah perjalanan setelah mr. kenek menarik bayaran, nampak berjalan menuju pak sopir dan duduk di dekatnya. Dikeluarkan beberapa lembar uang yang sudah didapatnya sedari pagi. Satu persatu lembaran uang itu ia rapikan. Ia kumpulkan sejenis dengan jumlah nominalnya.
Bila sudah mencapai angka Rp. 100.000 ia lipat salah satu lembarannya.


Namun yang membuatku kaget, ketika salah satu lembaran uang terlihat lebih lecek dari yang lain, ia mencoba sisihkan dengan memasukkan/menyelipkan lembaran kotor itu ke ujung bibirnya. UPS !!
Sembari tangannya asyik menghitung dan terus menghitung.


Aku terus memperhatikan pemandangan antik, yang mungkin bukan hal yang aneh. Hanya saja kekagetan itu, membuatku membelalak mata saja.
Setelah selesai menghitung, ia lipat uangnya, lalu diletakkan ke dalam saku bajunya. Pheeuff .. hidup ini keras man !!
Mungkin itu yang terbersit sebagai judul frame pendek barusan.


Aku tak ingin mengkritik apa pun, ..
Aku hanya ingin mengetahui .. bagaimana putaran uang itu berpindah tangan dari awal hingga berubah bentuk menjadi kusut, hitam, lecek, robek dan tak bernilai ...


Uang merupakan alat tukar yang dapat diterima secara umum. Alat tukar itu dapat berupa benda apapun yang dapat diterima oleh setiap orang di masyarakat dalam proses pertukaran barang dan jasa.


Coba bayangkan, ketika pertama kali kita mendapat uang dari bank, .. adalah ketika pertama kita menerima amplop gaji. Mm .. lembarannya masih bersih, mulus, bahkan ketika diraba terasa kekasaran angka nominal yang tertera di lembaran uangnya. Aroma khasnya ... terasa baru keluar dari mesin cetaknya ... ^.^ he he ..


Langkah pertama apa yang kita lakukan setelah kita menerima sejumlah dana, kemudian? Membaginya menjadi alokasi alokasi dana selama sebulan bukan? Ada yang untuk zakat, untuk keluarga yang lebih tua, pembayaran tagihan dan cicilan. Uang bulanan, dan juga saving.


Untuk alokasi dana pertama hingga ke-4, tentunya bukan lagi menjadi jalur kontrol kita. Namun bagaimana dengan jalur bulanan kita?
Kita pakai untuk apa saja pengeluaran kita? transportasi, belanja bulanan, dan dana cadangan. Kemana saja larinya lembaran lembaran itu dari tangan ke tangan?


Pagi pagi, abang sayur sudah lebar meneriakkan dagangannya. "Sayuuuuuu .....rrrr", "ayaaaaammm, bu, ayammmmnya !!", belum yang lain lewat. "Baksooo ... soooo ..!"
Ups belum tukang koran lewat ...


Dari tukang sayur, terjadilah transaksi jual beli. Abang tukang sayur menjadikan sebagian dananya untuk modal berbelanja esok paginya. Dibawanya lembaran itu ke pasar, dan berpindah tanganlah ia ke pedagang pasar.


Seorang ibu ibu tua, lusuh dan nampak lemah datang meminta minta. Diberikan lembaran uang seribuan tadi kepada ibu tua itu, dan ia berlalu menuju ke pedagang makanan kecil. Bertukarlah lembaran tadi dengan makanan yang dibelinya. Menjadi milik pedagang pecel atan nasi uduk, lembaran tadi sudah mulai berubah bentuk dan warna, walau keasliannya nampak sedikit terllihat.


Sang pedagang makanan hendak pulang menuju rumahnya yang jauh, sehingga ia harus menggunakan transportasi umum untuk bisa tiba. Beralih posisi-lah lembaran tadi, ke tangan pak sopir yang dilipatnya tak terlalu rapi. Begitu pedagang asongan yang menjajakan rokok lewat, berpindah lah sudah lembaran seribuan itu diantaranya ke tangan pedagang muda itu.


Tak dinyana, siang begitu terik, ia membeli 2 buah gelas air mineral dengan lembaran tersebut. Dan kini lembaran itu menjadi milik pedagang kelontong. Berlalu dengan posisi masih di tempat yang sama .. kita masih bisa membayangkan kemana perjalanan tanpa akhir itu akan berlanjut. Seperti apa tangan tangan itu memberi dan menerima lembaran yang satu kepada yang lain?
Tak terbayangkan bila itu "harus" mampir ke bibir seseorang, sekalipun sekedar meletakkannya sesaat. *ups* ...


Jagalah tangan tangan kita tetap bersih untuk bisa selalu terjaga dari sentuhan kuman dan debu yang beterbangan bebas di udara dan yang "bermukim sementara" diantara benda benda yang kita pegang.

6 Fans Berat:

catch me! mengatakan...

artikel yang menarik. aku juga kadang suka kaget kalo ngeliat ada uang bisa sampe lecek dan gak berbentuk gitu. padahal dari bank dicetaknya bagus dan rapih, bau uang baru. kadang2 nyampe di kita udah kumel, dekil, dan bau keringet. tapi yang namanya uang, tetep aja bernilai, tetep diterima, dan tetep dihargai keberadaannya.. hehehehehe..

Ayas Tasli Wiguna mengatakan...

lam n al ^^
good artikel!

reni mengatakan...

Uang..., yang jelek, kusut dan udah koyak pun masih dibutuhkan...
Karena perjalanan uang yang sangat panjang itulah, makanya tidak mengherankan kalau pada selembar/sekeping uang membawa bakteri yang banyak pula...

angga chen mengatakan...

thanks atas infonya...berarti jangan lupa untuk slalu cuci kaki dan cuki tangan ...he..he....thanks

ferdivolutions mengatakan...

aku suka bagian ini : Aku tak ingin mengkritik apa pun, ..
Aku hanya ingin mengetahui .. bagaimana putaran uang itu berpindah tangan dari awal hingga berubah bentuk menjadi kusut, hitam, lecek, robek dan tak bernilai ...


bagus mbak...tulisannya menginspirasi saya...

Kuyus is cute mengatakan...

@Catch me: halo salam kenal. iya bener juga biar dekil tetep diterima ya, namanya juga uang .. ^.^ he he he

@Ayas: salam kenal kembali
@Mbak Reni: bener mbak, bakteri nya banyak bener, terasa dari aromanya .. qi qi qi .. wanehhh ...

@Angga: yak betulll he he he
@Ferdi: waduh inspirasi apa tuch? boleh donk di share? he he he