2009_08_13 Doa Ember Kecil

Sebuah cerita sederhana, tentang kesederhanaan namun menyimpan kebaikan didalamnya.
Terimakasih untuk sahabatku "Aku dan Diriku" yang mengijinkanku mengutip dan meletakkannya disini.

Dahulu kala hiduplah sebuah keluarga yang sangat miskin, seorang ayah dan anak. Mereka hidup serba kekurangan. Sudah setahun sang anak ditinggal ibunya karena sakit dan tidak mempunyai uang untuk berobat.


Sang ayah sendiri hanya berprofesi sebagai buruh pengangkut air. Harta yang mereka miliki hanya gubuk yang mereka tinggali, pakaian seadanya, dan dua buah ember sebagai tumpuan hidup karena mereka hidup di daerah kurang subur.


Malang benar nasib si anak, tak lama kemudian ia ditinggal ayahnya. Kini ia hidup sebatang kara tak punya sanak saudara. Tapi hidup harus tetap berjalan. Ia kemudian melanjutkan hidupnya mengikuti jejak hidup ayahnya sebagai buruh pengangkut air. Tak ada pekerjaan lain yang bisa ia lakukan karena kemampuannya sangat terbatas. Tidak bisa membaca ataupun menulis.


Dengan 2 ember sebagai warisan berharga ayahnya ia memulai pekerjaannya sebagai kuli pengangkut air. Menjadi kuli air bukanlah pekerjaan yang gampang. Ia harus pergi menaiki bukit karena di sanalah satu-satunya sumber mata air di daerah itu. Hujan pun sangat jarang turun.


Uang yang didapat dari pekerjaannya hanya cukup untuk makan sehari-hari kadang sehari ia tidak makan sama sekali. Ia tidak mengeluh sedikit pun ia terima kehidupannya sebagai takdir yang harus ia jalani.


Bertahun-tahun lamanya ia tekuni pekerjaan itu dengan sabar. Salah satu embernya bocor sehingga membuat hidupnya tambah susah. Setiap kali ia membawa air hanya tinggal 1 ember setengah yang ia dapat. Lama-kelamaan bocornya semakin besar dan ia pun hanya bisa mendapatkan 1 ember air setiap kali ia pergi ke bukit. Walaupun begitu ia tetap saja memakai ember yang bocor itu tanpa ada usaha sedikit pun untuk memperbaiki atau menjual ember itu.


Ember bocor itu merasa malu dan minder dengan temannya yang sempurna fisiknya dan lebih bermanfa'at ketimbang dirinya yang hanya bisa membebani pundak tuannya. Setiap malam ia menangis akan kekurangan dirinya dan menyesali ketidak bergunaan dirinya. Tak henti-hentinya ia berdo'a agar ada yang menggantikan dirinya. Do'anya akhirnya terkabulkan.


Suatu hari tuannya pergi mencari air seperti biasanya. Di tengah perjalanan ia menemukan sebuah ember. Bentuknya masih cukup bagus dan tak ada lubang sedikit pun. Si ember bocor merasa senang karena akhirnya ada yang menggantikannya dan ia merasa siap untuk dibuang tuannya. Tapi yang diharapkan oleh si ember bocor tidak terjadi. Tuannya mengambil ember itu kemudian berkeliling desa untuk mencari pemiliknya. Setelah lama mencari, akhirnya ia mendapatkan pemilik ember itu dan memberikan ember yang bukan haknya.


Sejak kejadian itu si ember bocor tak henti-hentinya memikirkan kejadian. Apa tuannya itu orang yang terlalu baik atau terlalu bodoh? Apakah dirinya begitu berharga untuk dipertahankan? Setiap malam ia berdo'a agar diberikan kemampuan untuk berbicara. Akhirnya do'anya terkabul.


Seperti biasanya subuh-subuh tuannya harus mencari air untuk di jual ke desa. Ia mendengar suara tangisan. Tapi tak ada seorang manusia pun yang ada di sekitarnya. Setelah mencari-cari akhirnya ia meyakini suara itu berasal dari ember bocor miliknya.


Tuannya itu kemudian memberanikan diri untuk bertanya kepada ember bocor.
Tuannya : "Apakah suara tangis yang kudengar berasal dari kamu ?"
Ember bocor : "Ya tuanku. Aku menangis karena aku merasa tidak berguna karena hanya menjadi beban hidupmu. Keadaanku yang bocor dan tak sempurna ini hanya membuang-buang air yang telah kau ambil susah payah. Sesungguhnya aku rela bila Tuan menggantikan aku dengan ember yang lebih baik atau membuang diriku ini. Tapi jika tuan merasa diriku ini sebagai kenangan dari ayah tuan maka aku rela hanya menjadi hiasan di rumah tuan. Tuan tak perlu memakai diriku yang tidak berguna ini"


Tuannya tersenyum sambil menjawab:
"Wahai ember kesayanganku. Sesungguhnya aku memakaimu untuk kebaikan orang lain. Apa kamu tak sadar setiap air yang kau teteskan telah menumbuhkan tumbuhan dan bunga-bunga di sepanjang jalan yang kulewati. Aku merasa bahagia ketika melihat anak-anak bermain dengan bunga yang kau tumbuhkan atau seseorang yang sering memetikkan bunga untuk kekasihnya.


Sungguh aku termasuk orang yang bodoh dan miskin. Tak ada ilmu yang bisa aku ajarkan dan tak ada harta yang bisa aku bagikan. Terima kasih emberku kalau bukan karena dirimu aku tak kan bisa berbuat kebajikan di dunia."


Mendengar perkataan tuannya ember bocor itu merasa bangga dan bahagia sekaligus terharu. Ia tidak lagi merasa minder. setiap tuannya memakainya ia tertawa dan bernyanyi.


Waktu terus berlalu, Bunga-bunga di sepanjang jalan meninggi diringi pertambahan tumbuhan lainnya. Desa yang tadinya tandus dan sepi menjadi ramai dikunjungi orang2 dari kota untuk melihat bunga2 indah nan langka. Puluhan tahun setelah kematian sang kuli angkut air, ditemukan kandungan obat dari tumbuhan dan bunga tersebut. Sebuah dampak yang sangat besar dari seorang kuli angkut air dan embernya.


----
DI BALIK KEKURANGAN SELALU ADA KELEBIHAN
Semoga ceritanya bisa bermanfa'at
----

5 Fans Berat:

JHONI mengatakan...

...wah ceritanya bagus mba.....memang dalam setiap kejadian bagaimanapun buruknya pasti selalu ada sisi positif yang bisa kita ambil!!!!

Tukang komen mengatakan...

mampir sebentar, bacanya nanti yah...

Ranger mengatakan...

wew, mantap2 ceritanya, tingkatkan terus karyanya mbak.. hehehehehe.....

reni mengatakan...

Cerita yang keren.. Aku pernah membaca cerita ini, tapi tak selengkap yang ditulis mbak Kuyus.
Makasih udah berbagi mbak.. ^_^

Kuyus is cute mengatakan...

@Mas Jhoni: ya betul .. selalu ada sisi positifnya
@Tukang komen: he he trimakasih sudah mampir
@Ranger: iya .. aku sudah add linknya
@Mbak Reni: iya mbak, aku dapet dari cerita teman di fesbuk ^.^